Selasa, 26 Agustus 2014

Teruntuk Kalian Para Sahabat

Saat ini,
Aku tak tahu apa yang terlintas di pikiranku
Aku tak tahu apa yang harus ku tulis
Aku tak tahu tentang semua ini

Tapi, kurasa tentang perasaan ini
Ya,
      Aku rasa, aku menyadarinya
Ini tentang perasaan
      Perasaan yang tak pernah padam
      Perasaan yang tak lekang oleh waktu
      Perasaan yang tak diikat oleh ruang

Tembok yang berdiri kokoh di sana?
Pagar besi yang kuat itu?
Akankah kita sekuat itu?
Tidak,mereka adalah penghalang!!!
Kita lebih kuat, jauh lebih kuat
Kita yang akan merobohkan penghalang itu
Percayakah kalian kita sekuat itu?
Percayakah kalian akan ocehan ini?

Air yang terus mengalir?
Akar yang selalu mencari sumber air?
Akankah kita sekekal itu?
Semuanya itu seakan tak mungkin
Manusia hanya makhluk kelas rendah
Makhluk yang pandai berangan-angan
Tapi, tak inginkah kita patahkan teori itu?

Aku ingin mematahkannya
Bahkan lebih dari itu
Aku ingin meremukkan dari ujung ke ujung
Aku ingin mencabut akar ocehan teori-teori tenteng kita
     
      Namun, apa dayaku?
      Aku tak bisa melakukannya sendiri
      Aku perlu lebih dari sekam
      Untuk membuat api itu tetap menyala
      Aku butuh lebih dari emas
Aku butuh perkara yang lebih mahal dari permata
      Untuk membuatnya tetap bersinar
      Dan yang lebih dari semua itu adalah kalian
      Ya itu adalah kalian sahabat
      Kekeluargaan yang kekal di tubuh planet ini
      Itu yang akan mematahkan toeri makhluk kelas rendah
      We are family
      Yerterday, now, tomorrow and forever

     

                                    By: Yulin Elina
                                    8/6/2013. 00:02

Senin, 25 Agustus 2014

Cerpen - Pahlawanku Masih Dijajah



Nama: Yulin Elina
NIM: H1E012019
Fakultas/Jurusan/Program Studi: Fakultas Sains dan Teknik/MIPA/Fisika

Pahlawanku Masih Dijajah

Hari semakin terik, panas matahari semakin terasa, keringat mulai bercucuran. Sebagian wajah tampak bosan dan menggerutu. Dari anak SD, SMP dan SMA terlihat bebagai macam lukisan wajah yang tak tahu apa artinya ini. Namun ada juga yang tetap terlihat asyik menunggu upacara kemerdekaan dimulai. Iya, mereka yang tetap berseri-seri walaupun kepanasan ditengah lapangan karena ada sang pacar, teman dan sahabat yang ada di dekat mereka. Berbagai wajah memperlihatkan kelelahannya. Entah berapa botol air mineral yang mereka habiskan sambil menunggu upacaranya dimulai. Bahkan ada beberapa sekolah yang memang sengaja menyediakan beberapa kardus minuman untuk siswanya. Terlihat ekstrim memang saat melihat beberapa anak laki-laki menuangkan air minum pada kepalanya, mencuci mukanya dan mengibas-ngibaskaannya. Sepertinya mereka benar-benar kepanasan atau memang mereka anak-anak yang mencari perhatian dan membutuhkan perhatian teman dan guru mereka? Entahlah, bahkan sejak upacara belum dimulai sampah berupa kardus dan botol-botol bekas sudah berserakan di mana-mana.
Wiu…wiu…wiu…wiu...wiu...wiu...wiu...wiu...wiu...wiu...wiu..wiu…wiu…
Terdengar tiga sirine yang dinyalakan sahut menyahut. Terasa menegangkan dan semua peserta upacara hening sejenak. Agaknya para peserta upacara yang dari awal tak mengikuti jalannya upacara secara serius baru sadar bahwa sedari tadi mereka mengikuti upacara kemerdekaan tapi mereka asyik dengan obrolan dan dirinya sendiri.

PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan, dll diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Djakarta, hari 17, boelan 8, tahun 45
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta
Semua peserta upacara terlihat khusyuk saat mendengar Pak Camat membacakan teks proklamasi. Namun tiba-tiba seorang pemulung tua yang sedari tadi mengais sampah di belakang barisan anak SMA berjalan ke lapangan bagian samping dan ikut menjadi peserta upacara di samping barisan para guru. Wajahnya berseri ketika mendengar teks proklamasi dibacakan.  Terlebih saat dia melihat sang saka merah putih berkibar di ujung tiang tertinggi. Seulas senyum tersungging di wajah tuanya. Hampir semua mata tertuju padanya, suasana mendadak menjadi angat riuh. Ada yang merasa terharu, ada juga yang tertawa dan mengganggap itu sebuah sebuah lelucon. Tak lama kemudian dua orang petugas keamanan datang, yang seorang menggandeng pak pemulung tua itu keluar lapangan upacara lalu membawanya ke kantor polisi yang berada di samping lapangan upacara. Petugas yang satunya lagi membawakan hasil sampah yang diais sang pemlung karena sang pemulung tadi tak sempat membawanya dan terburu-buru digandeng dengan cepat oleh petugas yang pertama. Upacara berlanjut, masih ada sedikit suara riuh yang membicarakan sang pemulung tadi. Namun semua cerita itu berlalu saat komandan kompi membubarkan barisannya masing-masing. Upacara 17 Agustus memperingati hari kemerdekaan bangsa Indonesia telah selesai. Semua peserta upacara berhamburan menuju tempat teduh. Ada yang langsung ke parkiran mengambil motor lalu pulang, membeli minuman dan makanan, bercengkerama dengan teman, dan lain-lain. Terlihat juga segerombolan anak SMA yang terlihat enggan untuk pulang. Mereka duduk berjajar di depan kantor polisi, agaknya mereka sedang menunggu teman mereka.
“Ris, aku males pergi ke pantai. Aku pulang duluan aja ya?”
 “Kenapa Brend? Tumben banget?”
“Gak kenapa-kenapa, lagi males aja tadi juga lupa belum izin sama mama Ris,”
“Yah..., jadi gak seru dong kalau ada anggota kita yang gak ikut, pasti Clara juga gak ikut kalau Brenda gak ikut” sahut Risty dengan nada kecewa.
“Hahha santai aja Risty, besok-besok kalau aku udah izin sama mama pasti ikut deh,”
“Gimana Ra? Gue mau pulang nih. Kamu bareng aku nggak pulangnya?” Tanya Brenda.
“Iya deh, gue ngikut kamu aja Brend. Daripada nanti gue pulang sendirian.”
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang sementara teman-temannya yang lain pergi ke pantai.
Mereka menuju tempat parkir motor di samping kantor polisi, tapi mereka malah tertarik pada sesuatu. Mereka semakin mendekat berusaha melihat dan mendengarkannya.
“Ternyata pemulung tadi Brend,”
Terdengar sang polisi sedang mengintrogasi sang pemulung, sesekali nadanya terdengar kasar dan meninggi.
“Ya, Anda boleh keluar dari sini. Lain kali jangan diulangi ya pak,”
Terdengar suara pak polisi mulai melembut.
 “Duh…lega rasanya. Kirain tuh polisi mau marah-marah sama bapaknya lagi,”
Sang pemulung keluar dengan tergopoh-gopoh membawa hasil sampah aisannya tadi. Sejenak dia berhenti dan bergegas lari menuju lapangan upacara tadi. Di sana terlihat sudah ada dua pemulung lain yang juga sedang menjemput rezekinya. Pak pemulung tua juga akhirnya ikut serta bergabung dengan mereka. Mereka bertiga terlihat bersemangat dan sesekali tersungging senyum di bibir mereka. Tapi tak lama kemudian pemulung tua tadi menuju ke sebuah sepeda onthel tua.
“Oh...ternyata itu sepeda miliknya,” gumam Brenda dan Risty.
Sang pemulung tua tadi mengikat hasil aisannya di sepeda tersebut. Mungkin dia akan pulang. Tapi ternyata tidak, dia meninggalkan sepedanya dan disandarkannya pada tembok. Brenda dan Clara agaknya penasaran dengan sang pemulung itu dan mereka memutuskan untuk mengikuti sang pemulung tadi. Sang pemulung mengambil beberapa bendera kecil yang tergeletak di lapangan. Bendera merah putih dari kertas yang kurang lebih berukuran 15 x 8 cm. Dia memungut bendera-bendera kecil itu dan membersihkannya dari debu akibat injakan orang-orang yang upacara tadi. Dia kembali lagi menuju sepeda tua itu, menaikinya dan dikayuhnya sekuat tenaga. Suasana di jalan masih cukup ramai, cukup menghambat laju sepeda sang pemulung tua tadi sehingga mereka berdua masih bisa mengawasi dan mengikuti pemulung tadi walaupun mereka harus mengambil motor di parkiran dulu. Motor mereka bergerak sangat lambat mengikuti laju sepeda onthel sang pemulung tersebut. Speedometer menunjuk pada angka 10-20 km/jam. Bahkan kadang mereka sengaja berhenti saat jaraknya sudah terlalu dekat dengan pemulung tadi. Cukup lama menunggu sang pemulung berhenti mengayuh sepedanya. Butuh waktu satu jam dari lapangan tadi. Dan pasti banyak energi yang harus dikeluarkan dari tubuh yang sudah tua itu.
“Mungkin itu rumahnya Brend,”
“Iya mungkin. Eh, siapa tuh? Isterinya mungkin ya?,”
“Tumben jam segini sudah pulang?” seru wanita tua itu sambil menjabat tangan sang pemulung.
“Iya buk, ini kan hari kemerdekaan. Simbah juga pengen merayakan hari kemerdekaan. Seperti waktu dulu, waktu masih zaman perjuangan,”
“Simbah ini aneh-aneh saja, yang dulu sudah beda dengan zaman sekarang mbah. Kita sudah merdeka dan sudah pernah berjuang untuk mendapat kemerdekaan ini. Yang penting sekarang itu bagaimana caranya kita bisa hidup dan makan setiap hari mbah,”
Sang pemulung tadi tak peduli dengan ocehan isterinya yang protes karena sang suami tidak mau bekerja karena hari itu hari kemerdekaan. Sang pemulung tua tadi sengaja memilih memulung di lapangan kecamatan agar bisa ikut upacara. Walaupun sang pemulung akhirnya diamankan oleh petugas dan diinterogasi di kantor polisi karena keinginannya mengikuti upacara itu. Namun tak terlihat ada penyesalan di sana. Sang pemulung mengambil bendera-bendera kertas yang tadi diambilnya di lapanagan dan ditancapkannya ke tembok bambu rumahnya. Sang pemulung bergegas menuju bendera merah putih yang telah dipasangnya beberapa hati yang lalu di depan rumahnya. Tak tanggung-tanggung badannya tegap dan posisi badan siap, memberi hormat dengan senyuman bangga pada sang saka merah putih. Perlahan terdengar lantunan lamat-lamat, semakin lama semakin jelas. Ya, sang pemulung ternyata sedang menyanyikan lagu ciptaan W.R. Soepratman yang berjudul Indonesia Raya. Terlihat air mata yang jatuh pada pipi yang berkeriput mengiringi lagu kebangsaan Indonesia itu. Sungguh, dia benar-benar meneteskan air mata. Sang isteri mengamatinya dari dalam rumah, dan sesaat kemudian menyusul suaminya keluar dan dia juga ikut memberikan hormat pada sang merah putih. Ada seulas senyum dalam air mata yang mengalir. Entah senyum haru, kecewa, atau apa tak ada yang tahu. Hanya mereka yang tahu. Brenda dan Clara menjadi saksi kecintaan para pejuang terhadap bangsanya.
“Penjajahan oleh Inggris, Belanda dan Jepang telah berlalu Indonesiaku. Sekarang koruptor, otak pintar nan licik, kemiskinan sedang menjajahmu, menjajah sebagian rakyatmu Indonesiaku.”

Indonesia raya merdeka merdeka
Tanahku negeriku yang ku cinta
Indonesia raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia raya